5 min read342

Inflasi Mei 2026 Tetap Terkendali, Menjadi Penopang Kepercayaan terhadap Ekonomi Nasional

Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan energi, Indonesia berhasil menjaga inflasi Mei 2026 pada level yang terkendali. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi bulanan sebesar 0,28 persen dan inflasi tahunan 3,08 persen. Capaian ini mencerminkan efektivitas pengelolaan pasokan, stabilitas harga, serta kuatnya fondasi ekonomi nasional dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi.

O

OP Admin

Published in Narasi Politik

Loading...
Inflasi Mei 2026 Tetap Terkendali, Menjadi Penopang Kepercayaan terhadap Ekonomi Nasional

Inflasi Tetap Terjaga Meski Tekanan Harga Meningkat

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month). Angka ini memang lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tercatat 0,13 persen, namun masih berada dalam kisaran yang aman dan tidak mengindikasikan adanya tekanan inflasi yang berlebihan.

Secara tahunan (year-on-year), inflasi berada pada level 3,08 persen, sementara inflasi kalender Januari hingga Mei 2026 tercatat sebesar 1,35 persen. Dengan capaian tersebut, Indonesia masih mampu menjaga stabilitas harga di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya pulih dari berbagai gejolak pasar komoditas dan energi.

Data ini menunjukkan bahwa tekanan harga yang muncul selama Mei belum berkembang menjadi risiko yang mengganggu perekonomian secara luas. Sebaliknya, kondisi tersebut menggambarkan kemampuan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar dan ketersediaan pasokan.


Kenaikan Harga Pangan Menjadi Faktor Utama Inflasi

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Mei 2026 dengan andil sebesar 0,12 persen terhadap inflasi nasional.

Cabai merah menjadi komoditas yang memberikan kontribusi terbesar setelah mengalami kenaikan harga hingga 25,64 persen dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen. Selain itu, bawang merah mengalami inflasi sebesar 6,65 persen dengan andil 0,04 persen, tomat naik 9,82 persen dengan andil 0,03 persen, serta minyak goreng yang meningkat 2,87 persen.

Kenaikan harga tersebut terutama dipicu oleh menurunnya hasil panen di sejumlah sentra produksi akibat cuaca ekstrem, kekeringan, dan gangguan organisme pengganggu tanaman. Beberapa wilayah seperti Garut, Temanggung, dan Malang mengalami penurunan produksi dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski demikian, tidak semua komoditas pangan mengalami kenaikan harga. Daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 3,83 persen dengan andil minus 0,06 persen. Telur ayam ras turun 5,14 persen dengan andil minus 0,05 persen, sementara bawang putih mencatat deflasi sebesar 3,06 persen.

Keberadaan komoditas yang mengalami penurunan harga tersebut membantu menahan laju inflasi sehingga tekanan yang muncul dari kelompok hortikultura tidak berkembang menjadi gejolak harga yang lebih luas.


Penyesuaian Harga Energi dan Transportasi Tetap Terkelola

Selain faktor pangan, inflasi Mei 2026 juga dipengaruhi oleh perkembangan harga energi dan biaya transportasi.

Kenaikan harga LPG nonsubsidi sekitar 19 persen yang diberlakukan sejak April 2026 menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi pada kelompok harga yang diatur pemerintah. Di sisi lain, kenaikan harga avtur di berbagai bandara domestik turut memengaruhi tarif angkutan udara.

Kelompok transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen terhadap inflasi nasional. Tarif angkutan udara meningkat 2,75 persen, solar naik 4,22 persen, pelumas kendaraan meningkat 3,85 persen, dan biaya pemeliharaan kendaraan bertambah 0,70 persen.

Walaupun terjadi kenaikan pada sejumlah komponen tersebut, dampaknya terhadap inflasi nasional masih relatif terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa proses penyesuaian harga berlangsung secara bertahap dan tidak menimbulkan tekanan yang berlebihan terhadap masyarakat.

Stabilitas pada sektor energi dan transportasi menjadi penting karena kedua sektor ini memiliki pengaruh besar terhadap biaya distribusi barang dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.


Inflasi Inti Tetap Rendah, Menunjukkan Kondisi Ekonomi yang Sehat

Salah satu indikator yang menunjukkan kualitas stabilitas harga adalah inflasi inti (core inflation). Pada Mei 2026, inflasi inti tercatat hanya sebesar 0,22 persen dengan andil 0,14 persen terhadap inflasi umum.

Komoditas yang memberikan kontribusi terhadap inflasi inti antara lain minyak goreng, telepon seluler, laptop, pelumas kendaraan, nasi dengan lauk, serta biaya pemeliharaan.

Rendahnya inflasi inti mengindikasikan bahwa tekanan harga yang terjadi masih bersifat sementara dan belum menyebar ke berbagai sektor ekonomi secara luas. Dengan kata lain, kenaikan harga yang terjadi belum membentuk tekanan inflasi yang bersifat struktural.

Sementara itu, kelompok harga bergejolak (volatile food) hanya mencatat inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil 0,04 persen. Angka tersebut tergolong rendah mengingat adanya gangguan produksi pada beberapa komoditas pertanian selama Mei 2026.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa stabilitas harga masih dapat dipertahankan melalui pengelolaan pasokan dan distribusi yang efektif.


Penurunan Harga Emas Membantu Menahan Laju Inflasi

Di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mencatat deflasi sebesar 0,74 persen dengan andil minus 0,05 persen terhadap inflasi nasional.

Penyebab utama deflasi tersebut adalah turunnya harga emas perhiasan sebesar 2,67 persen. Penurunan harga emas bahkan telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut sejak Maret 2026.

Kondisi ini sejalan dengan tren pelemahan harga emas dunia yang pada Mei 2026 berada di level sekitar US$4.587,21 per troy ounce, turun dari posisi sebelumnya yang mencapai US$5.019,97 per troy ounce.

Penurunan harga emas memberikan kontribusi positif dalam meredam laju inflasi secara keseluruhan dan menjadi salah satu faktor penyeimbang di tengah kenaikan harga pangan dan energi.


Fundamental Ekonomi yang Kuat Menjadi Penopang Stabilitas

Keberhasilan menjaga inflasi tidak terlepas dari kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid.

Pada April 2026, Indonesia kembali mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$0,09 miliar. Dengan capaian tersebut, Indonesia telah membukukan surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.

Nilai ekspor sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai US$92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan yang meningkat 9,78 persen.

Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 tercatat sebesar 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan April 2026. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pendapatan petani meningkat lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan.

Kombinasi surplus perdagangan, stabilitas nilai tukar, dan meningkatnya kesejahteraan petani menjadi faktor penting yang mendukung ketahanan ekonomi nasional.


Stabilitas Inflasi Menjadi Modal Penting bagi Pertumbuhan Ekonomi

Data inflasi Mei 2026 menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu menjaga kestabilan harga di tengah berbagai tantangan ekonomi yang muncul dari sektor pangan, energi, maupun transportasi.

Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari berbagai kebijakan yang dijalankan secara konsisten, mulai dari penguatan pasokan pangan, pengendalian distribusi barang, pengawasan harga di pasar, hingga sinergi kebijakan fiskal dan moneter.

Bagi masyarakat, inflasi yang terkendali berarti harga kebutuhan sehari-hari tetap relatif stabil, daya beli lebih terjaga, dan kepastian ekonomi dapat dirasakan secara nyata.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, capaian inflasi Mei 2026 menjadi bukti bahwa perekonomian Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles