.jpeg)
Capaian tersebut menjadi perhatian karena terjadi di berbagai bidang, mulai dari pertambangan, pupuk, semen, perkebunan, jasa keuangan, logistik, perbankan, hingga energi bersih.
Kinerja tersebut juga memberikan gambaran bahwa penguatan tata kelola dan efisiensi perusahaan negara menjadi agenda yang mulai memberikan dampak terhadap performa korporasi.
BUMN Papan Atas Masih Menjadi Motor Kinerja
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto, mengatakan performa positif masih terlihat pada sejumlah BUMN papan atas yang selama ini menjadi penggerak utama pendapatan dan laba perusahaan negara.
"Menurut saya kinerja solid masih ditunjukan BUMN blue chips yang sedari dulu menjadi motor penggerak revenue dan profit total BUMN. Misal kinerja Himbara di sektor perbankan, sektor mineral dan hasil tambang, sektor telco dan Pertamina," ujar Toto, Selasa (11/8).
Menurut Toto, ruang untuk meningkatkan kinerja BUMN masih terbuka lebar. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mempercepat streamlining, yakni penataan dan konsolidasi perusahaan negara agar struktur BUMN semakin efektif dan efisien.
"Harapan saya supaya proses streamlining BUMN bisa dipercepat sehingga perbaikan kinerja bisa lebih cepat dilaksanakan," lanjut Toto.
PT Timah Catat Lonjakan Laba 804,7 Persen
Salah satu capaian paling mencolok datang dari PT Timah.
Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026, perusahaan tambang pelat merah tersebut membukukan laba bersih Rp2,71 triliun. Angka tersebut melonjak 804,7 persen dibandingkan laba Rp300 miliar pada semester I 2025.
Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu lonjakan laba terbesar di antara BUMN yang tercatat dalam laporan kinerja semester pertama tahun ini.
Pupuk Indonesia dan Semen Indonesia Ikut Menguat
Kinerja positif juga terlihat pada sektor industri strategis.
PT Pupuk Indonesia mencatat laba bersih Rp8,51 triliun, tumbuh 253 persen dibandingkan Rp2,41 triliun pada semester I 2025.
Sementara itu, PT Semen Indonesia mencatat pertumbuhan laba sebesar 196,5 persen, dari Rp65,24 miliar menjadi Rp193,46 miliar.
Di sektor perkebunan, PT Agrinas Palma Nusantara mencatat laba Rp890 miliar atau meningkat 150 persen dibandingkan Rp356 miliar pada periode sebelumnya.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kinerja tidak hanya terjadi pada satu jenis industri, tetapi tersebar pada sejumlah sektor strategis.
Perbankan dan Logistik Turut Memberikan Kontribusi
Sektor jasa keuangan dan logistik juga mencatat perkembangan positif.
PT Pegadaian membukukan laba Rp6,59 triliun, naik 84,6 persen dari Rp3,57 triliun.
Kemudian PT Pelindo mencatat laba Rp2,57 triliun, tumbuh 60,4 persen dibandingkan Rp1,60 triliun.
PTPN IV PalmCo juga membukukan pertumbuhan laba 54 persen menjadi Rp3,23 triliun dari Rp2,10 triliun.
Sementara Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat laba Rp2,40 triliun, meningkat 40,8 persen dibandingkan Rp1,70 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Bank Mandiri dan Energi Bersih Tetap Tumbuh
Kinerja positif juga ditunjukkan Bank Mandiri.
Bank pelat merah tersebut mencatat laba sebesar Rp30,41 triliun, meningkat 24,3 persen dibandingkan Rp24,46 triliun pada semester I 2025.
Di sektor energi bersih, PT Pertamina Geothermal Energy membukukan laba US$79,61 juta, naik 15,5 persen dari US$68,93 juta.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa performa positif juga terjadi pada sektor yang berkaitan dengan pengembangan energi terbarukan.
Krakatau Steel dan Kimia Farma Berhasil Berbalik Positif
Salah satu perkembangan yang tidak kalah penting adalah keberhasilan sejumlah BUMN yang sebelumnya mencatat kerugian untuk memperbaiki kinerja.
PT Krakatau Steel, yang sebelumnya mengalami kerugian sekitar Rp1,74 triliun, berhasil berbalik menjadi laba sekitar Rp150–185 miliar.
Sementara PT Kimia Farma juga membalikkan kinerja dari rugi Rp135,61 miliar menjadi laba Rp54,07 miliar.
Perubahan tersebut menjadi catatan penting dalam proses pembenahan BUMN karena menunjukkan adanya perbaikan tidak hanya pada perusahaan yang sejak awal memiliki kinerja kuat, tetapi juga pada perusahaan yang sebelumnya menghadapi tekanan keuangan.
Transformasi BUMN Memasuki Tahap Pembuktian
Rangkaian capaian semester I 2026 menjadi modal penting bagi agenda transformasi BUMN.
Konsolidasi dan penataan perusahaan negara di bawah Danantara diarahkan untuk menciptakan struktur yang lebih efisien sekaligus meningkatkan disiplin operasional dan tata kelola.
Data kinerja sejumlah perusahaan negara memberikan gambaran awal bahwa agenda tersebut mulai menghasilkan perubahan yang dapat diukur melalui laporan keuangan.
Namun, proses transformasi masih membutuhkan keberlanjutan.
Percepatan streamlining seperti yang disampaikan Toto Pranoto menjadi salah satu pekerjaan penting agar efisiensi dan peningkatan kinerja dapat terus dipertahankan.
Kinerja BUMN Menjadi Modal Ekonomi Pemerintahan Prabowo
Memasuki tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, peningkatan kinerja BUMN menjadi salah satu perkembangan yang memberikan modal positif bagi agenda reformasi perusahaan negara.
Pertumbuhan laba di berbagai sektor menunjukkan adanya ruang bagi BUMN untuk terus memperbaiki efisiensi dan produktivitas.
Lebih jauh, penguatan BUMN memiliki arti strategis bagi perekonomian nasional. Perusahaan negara tidak hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga mengelola aset negara secara produktif dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian.
Karena itu, capaian semester I 2026 dapat menjadi pijakan untuk melanjutkan proses pembenahan dengan target yang lebih besar.
Data Perbandingan Laba BUMN Semester I 2025 dan 2026
PT Timah: Rp300 miliar → Rp2,71 triliun (naik 804,7%)
PT Pupuk Indonesia: Rp2,41 triliun → Rp8,51 triliun (naik 253%)
PT Semen Indonesia: Rp65,24 miliar → Rp193,46 miliar (naik 196,5%)
PT Agrinas Palma Nusantara: Rp356 miliar → Rp890 miliar (naik 150%)
PT Pegadaian: Rp3,57 triliun → Rp6,59 triliun (naik 84,6%)
PT Pelindo: Rp1,60 triliun → Rp2,57 triliun (naik 60,4%)
PTPN IV PalmCo: Rp2,10 triliun → Rp3,23 triliun (naik 54%)
BTN: Rp1,70 triliun → Rp2,40 triliun (naik 40,8%)
Bank Mandiri: Rp24,46 triliun → Rp30,41 triliun (naik 24,3%)
PT Pertamina Geothermal Energy: US$68,93 juta → US$79,61 juta (naik 15,5%)
PT Krakatau Steel: rugi sekitar Rp1,74 triliun → laba sekitar Rp150–185 miliar
PT Kimia Farma: rugi Rp135,61 miliar → laba Rp54,07 miliar
Menjaga Momentum Perbaikan
Data tersebut menunjukkan adanya momentum positif yang perlu dijaga. Peningkatan laba dan keberhasilan sejumlah perusahaan membalikkan kerugian memberikan ruang bagi BUMN untuk melanjutkan pembenahan.
Tantangannya adalah memastikan peningkatan kinerja tersebut menjadi tren jangka panjang, bukan sekadar capaian satu semester.
Dengan konsolidasi yang lebih efektif, efisiensi operasional, tata kelola yang semakin disiplin, dan strategi bisnis yang tepat, BUMN memiliki peluang untuk semakin kompetitif sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi BUMN bukan hanya tercermin dari angka laba, tetapi dari kemampuan perusahaan negara mengelola aset secara produktif, meningkatkan daya saing, dan menghadirkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi negara dan masyarakat.














