2 min read748

PMI Manufaktur Indonesia Turun ke 46,9, Industri Hadapi Tantangan Permintaan dan Biaya Produksi

JAKARTA – Kinerja industri manufaktur nasional melemah pada Juni 2026. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 dari 50,0 pada Mei 2026. Penurunan tersebut menandakan aktivitas manufaktur kembali memasuki fase kontraksi karena berada di bawah batas 50.

O

OP Admin

Published in Narasi Politik

Loading...
PMI Manufaktur Indonesia Turun ke 46,9, Industri Hadapi Tantangan Permintaan dan Biaya Produksi

Survei tersebut menunjukkan perlambatan dipengaruhi oleh melemahnya permintaan dari pasar domestik maupun internasional. Di sisi lain, perusahaan manufaktur juga menghadapi kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga bahan baku dan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Menanggapi perkembangan tersebut, Kementerian Perindustrian menilai kebijakan penyediaan gas industri dengan harga kompetitif menjadi salah satu langkah untuk menjaga daya saing sektor manufaktur.

PMI Manufaktur Kembali Berada di Zona Kontraksi

PMI manufaktur Indonesia tercatat sebesar 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut turun dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 50,0, sekaligus menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami kontraksi.

Penurunan indeks mencerminkan perlambatan pada aktivitas produksi, pesanan baru, serta kegiatan operasional perusahaan manufaktur di berbagai subsektor.

Permintaan Domestik dan Luar Negeri Mengalami Penurunan

S&P Global mencatat berkurangnya permintaan menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan PMI.

Permintaan dari pasar domestik melemah seiring perlambatan aktivitas ekonomi, sementara pesanan ekspor juga menurun akibat kondisi pasar global yang masih belum stabil. Berkurangnya pesanan baru membuat sejumlah perusahaan menyesuaikan volume produksi dan pembelian bahan baku.

Kenaikan Biaya Input Menambah Beban Industri

Selain menghadapi penurunan permintaan, sektor manufaktur juga dibayangi kenaikan biaya operasional.

Harga bahan baku yang meningkat di pasar global serta pelemahan rupiah menyebabkan biaya input industri bertambah. Tekanan tersebut memengaruhi efisiensi perusahaan dan menjadi tantangan bagi pelaku usaha dalam menjaga daya saing produknya.

Pemerintah Andalkan Kebijakan HGBT untuk Mendorong Pemulihan

Kementerian Perindustrian menyatakan pemerintah terus mengupayakan berbagai langkah untuk mendukung pemulihan sektor manufaktur.

Salah satu kebijakan yang diharapkan mampu memberikan dampak positif adalah optimalisasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi industri. Melalui penyediaan gas dengan harga yang lebih kompetitif, pemerintah berharap biaya produksi dapat ditekan sehingga industri memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat daya saing.

Pemerintah juga terus melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga iklim investasi dan mempercepat pemulihan sektor manufaktur sebagai salah satu kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles