5 min read924

Shanghai Bukan Sekadar Simbol: Bagaimana Indonesia Sedang Memperkuat Posisi Rupiah di Tengah Pergeseran Ekonomi Global

Kesepakatan terbaru antara Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBOC) di Shanghai menandai langkah penting dalam strategi Indonesia memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Di tengah dunia yang semakin multipolar dan ketidakpastian global yang terus meningkat, kerja sama penggunaan mata uang lokal, pembaruan currency swap, serta integrasi sistem pembayaran lintas negara menunjukkan bahwa Indonesia sedang membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat, lebih fleksibel, dan lebih mandiri. Langkah ini tidak hanya relevan bagi stabilitas rupiah hari ini, tetapi juga bagi daya saing ekonomi Indonesia dalam dekade mendatang.

O

OP Admin

Published in Narasi Politik

Loading...
Shanghai Bukan Sekadar Simbol: Bagaimana Indonesia Sedang Memperkuat Posisi Rupiah di Tengah Pergeseran Ekonomi Global

Ketika Ketahanan Menjadi Kata Kunci Baru Ekonomi Dunia

Selama bertahun-tahun, ukuran keberhasilan ekonomi suatu negara hampir selalu diukur melalui pertumbuhan. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin baik penilaiannya.

Namun berbagai krisis global dalam dua dekade terakhir mengubah cara dunia memandang kekuatan ekonomi.

Krisis keuangan global 2008 menunjukkan bahwa sistem keuangan yang terlihat kuat dapat runtuh ketika ketergantungan terlalu besar terhadap satu pusat keuangan. Pandemi COVID-19 membuktikan bahwa rantai pasok global yang efisien belum tentu tangguh. Sementara ketegangan geopolitik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa stabilitas ekonomi kini semakin dipengaruhi oleh faktor-faktor non-ekonomi.

Dalam situasi seperti ini, ketahanan atau resilience menjadi kata kunci baru.

Negara yang mampu bertahan menghadapi guncangan dianggap sama pentingnya dengan negara yang mampu tumbuh cepat.

Indonesia tampaknya memahami perubahan paradigma tersebut.


Mengapa Shanghai Penting?

Pada Juni 2026, Bank Indonesia dan People's Bank of China memperbarui Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA), memperluas kerja sama Local Currency Transaction (LCT), serta memperkuat infrastruktur pembayaran lintas negara yang juga melibatkan Hong Kong.

Bagi sebagian orang, kesepakatan ini mungkin terlihat sebagai urusan teknis antarbank sentral.

Padahal secara strategis, kerja sama tersebut menyentuh salah satu aspek paling penting dalam ekonomi modern: kemampuan sebuah negara mengelola risiko eksternal.

Menurut data Bank for International Settlements (BIS), dolar AS masih terlibat dalam hampir 90 persen transaksi valuta asing dunia. Dominasi ini memberikan manfaat berupa likuiditas dan efisiensi, tetapi juga menciptakan kerentanan bagi negara-negara yang sangat bergantung pada pergerakan dolar.

Karena itu, semakin banyak negara mulai membangun alternatif transaksi melalui penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral.

Indonesia kini menjadi bagian dari tren global tersebut.


Tiongkok dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia

Ada alasan kuat mengapa Tiongkok menjadi mitra utama dalam kerja sama ini.

Data perdagangan menunjukkan bahwa Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama lebih dari satu dekade. Nilai perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai sekitar 154,5 miliar dolar AS.

Artinya, jutaan transaksi ekonomi yang melibatkan perusahaan Indonesia dan Tiongkok berlangsung setiap tahun.

Namun sebagian besar transaksi tersebut masih melewati dolar AS sebagai mata uang perantara.

Dari sudut pandang ekonomi, hal ini menciptakan biaya tambahan.

Pelaku usaha harus menghadapi biaya konversi ganda.

Risiko fluktuasi kurs meningkat.

Ketergantungan terhadap likuiditas dolar menjadi lebih besar.

Melalui penggunaan rupiah dan renminbi secara langsung, sebagian biaya tersebut dapat dikurangi.

Bagi eksportir, efisiensi meningkat.

Bagi importir, risiko nilai tukar lebih terkendali.

Bagi perekonomian nasional, tekanan terhadap kebutuhan dolar dapat berkurang secara bertahap.


Ini Bukan Dedolarisasi

Salah satu kesalahan terbesar dalam membaca perkembangan ini adalah menganggap Indonesia sedang melakukan dedolarisasi.

Faktanya, hampir tidak ada negara besar yang berusaha meninggalkan dolar sepenuhnya.

Bahkan Tiongkok sendiri masih menyimpan cadangan devisa dalam dolar AS dan menggunakan dolar dalam berbagai transaksi internasional.

Apa yang dilakukan Indonesia jauh lebih pragmatis.

Indonesia sedang melakukan diversifikasi.

Dalam dunia investasi, diversifikasi merupakan prinsip dasar pengelolaan risiko.

Negara yang hanya memiliki satu jalur perdagangan atau satu instrumen pembayaran akan lebih rentan dibanding negara yang memiliki banyak pilihan.

Karena itu, penggunaan mata uang lokal bukanlah upaya mengganti dolar, melainkan upaya memperluas opsi ketika menghadapi ketidakpastian global.


Sejalan dengan Agenda Ekonomi Prabowo

Jika dicermati lebih jauh, langkah Bank Indonesia ini juga sejalan dengan arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Sejak awal pemerintah menempatkan ketahanan nasional sebagai fondasi pembangunan.

Konsep ketahanan tersebut tidak hanya mencakup pangan dan energi, tetapi juga ketahanan ekonomi secara keseluruhan.

Program hilirisasi bertujuan memperkuat struktur industri nasional.

Swasembada pangan diarahkan untuk mengurangi ketergantungan impor.

Penguatan investasi dan industrialisasi ditujukan untuk memperbesar kapasitas produksi domestik.

Dalam konteks yang sama, diversifikasi sistem transaksi internasional merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan sektor keuangan.

Artinya, kerja sama di Shanghai bukan kebijakan yang berdiri sendiri.

Ia merupakan bagian dari strategi nasional yang lebih luas untuk membangun ekonomi yang lebih mandiri dan lebih tahan terhadap gejolak eksternal.


Dunia Sedang Bergerak ke Arah yang Sama

Indonesia juga tidak berjalan sendirian.

ASEAN telah memperluas penggunaan mata uang lokal melalui berbagai inisiatif regional.

India mendorong penggunaan rupee dalam perdagangan internasional.

Brasil dan Tiongkok mengembangkan sistem transaksi langsung menggunakan mata uang masing-masing.

Menurut laporan IMF dan Bank Dunia, diversifikasi instrumen pembayaran dan penggunaan mata uang lokal dapat membantu negara berkembang meningkatkan ketahanan terhadap volatilitas global.

Dengan kata lain, langkah yang diambil Indonesia bukan eksperimen.

Ia merupakan bagian dari perubahan yang sedang berlangsung di berbagai kawasan dunia.


Fondasi yang Mungkin Baru Terlihat Beberapa Tahun Lagi

Salah satu karakteristik kebijakan strategis adalah manfaatnya sering kali tidak langsung terlihat.

Pembaruan currency swap tidak akan membuat rupiah menguat secara permanen dalam semalam.

Perluasan transaksi mata uang lokal tidak akan langsung mengubah struktur perdagangan nasional dalam hitungan minggu.

Namun kebijakan seperti ini bekerja secara bertahap.

Ia membangun lapisan-lapisan perlindungan yang membuat ekonomi lebih tahan terhadap tekanan di masa depan.

Ketika dunia menghadapi ketidakpastian baru, negara yang telah memiliki instrumen alternatif akan berada dalam posisi yang lebih siap.

Dan itulah yang sedang dibangun Indonesia hari ini.


Kesimpulan

Kesepakatan antara Bank Indonesia dan People's Bank of China di Shanghai mencerminkan perubahan penting dalam cara Indonesia memandang ketahanan ekonomi. Fokusnya tidak lagi hanya pada pertumbuhan, tetapi juga pada kemampuan menghadapi risiko global yang semakin kompleks.

Melalui perluasan transaksi mata uang lokal, penguatan kerja sama keuangan, dan integrasi sistem pembayaran lintas negara, Indonesia sedang membangun fondasi ekonomi yang lebih resilien. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, langkah ini melengkapi berbagai agenda strategis lain seperti hilirisasi, ketahanan pangan, dan penguatan industri nasional.

Pada akhirnya, kekuatan ekonomi tidak ditentukan oleh seberapa cepat suatu negara tumbuh pada satu periode tertentu, melainkan oleh seberapa siap negara tersebut menghadapi perubahan zaman. Dari Shanghai, Indonesia menunjukkan bahwa persiapan itu sedang dilakukan—secara bertahap, terukur, dan dengan visi jangka panjang yang semakin jelas.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles